Hikmah di balik musibah

 Tausiyah

Oleh;www.nasihatislam.com@ikhwan_bahar

Hikmah di Balik Musibah

Pertama, menjadi ujian kesabaran seorang mukmin, karena disaat musibah datang terlihat sekali sikap seorang hamba yang sebenarnya, apakah berbaik sangka atau justru sebaliknya berburuksangka atau bahkan menyalahkan dan mencacimaki Allah SWT, Allah SWT berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. al Baqarah : 214).

Dan memang pada dasarnya, hidup ini tak akan pernah lepas dari ujian Allah, kita kaya ataupun miskin, senang ataupun susah, semuanya adalah ujian Allah, Allah berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. al Mulk : 2).

Kedua, menjadi bukti betapa tidak berdayanya manusia dan begitu mahakuasanya Allah SWT, jangankan menangkis musibah, memprediksi kapan datangnya musibah secara valid manusia tidak sanggup. ketika pendekatan ini disadari oleh seorang mukmin, maka akan muncullah perasaan dirinya akan keagungan dan kemahakuasaan Allah ‘azzawajalla.
Fir’aun menjadi sebegitu sombong dan congkaknya, dikarenakan sejak dia lahir sampai menjelang ajalnya, dia tidak pernah merasakan segala kesusahan hidup, segala keinginannya selalu terkabulkan, kondisi ini lambat laun membuat Fir’aun merasakan betapa dia memang berhak berkuasa dan berlaku sombong, sampai-sampai pada akhirnya dia memproklamirkan dirinya sebagai tuhan, “dan berkatalah Fir’aun:” Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi.” (QS. an Nazi’at : 24).

Ketiga, musibah datang untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat seorang mukmin.Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641).
Ada begitu banyak cara Allah agar dosa kita diampuni, mulai dari istighfar, bertaubat, memperbanyak amalan kebaikan dan sebagainya, tetapi kadangkala manusia lalai, disuruh beristighfar tidak mau, apalagi bertaubat kepada-Nya, tetapi karena Allah Maha Pengampun dan Penyayang kepada hamba-Nya, dosa hamba-Nya yang lalai tetap Allah ampuni, tetapi dengan cara menurunkan musibah, baik itu musibah yang sederhana seperti tertusuk duri atau musibah yang jauh lebih berat seperti gempa dan sebagainya.

Keempat, musibah juga menjadi salah satu cara (tarbiyah) Allah dalam mendidik dan menegur kesilapan dan dosa hamba-Nya. Allah berfirman,”Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun Menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. al An’am : 43).

Bahkan kepada para nabi dan rasul-Nya, Allah turunkan musibah agar mereka tidak terjebak pada sesuatu yang bisa melalaikan mereka dari cinta Allah. Nabi Yusuf Allah pisahkan dari ayahnya nabi Ya’qub. Karena dia mendapatkan cinta yang cukup besar dari bapaknya, nabi Ibrahim Allah perintahkan untuk menyembelih Ismail putra yang berpuluh-puluh tahun dinanti kehadirannya. Demikian pula Rasulullah, ditahun yang sama Allah wafatkan dua tokoh yang selama ini menjadi tulang punggung dakwah beliau. Maka di tahun wafatnya Khadijah istri beliau dan Abu Thalib sang paman disebut ‘amm alhazan (tahun duka cita). Semuanya agar rasul-Nya tak lena dengan bantuan dan cinta makhluk.

Kelima, beribadah ketika ada musibah tentu memiliki pengalaman yang khas dan pahala yg berlipat-lipat kali ganda. Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah bersada, “beribadah diwaktu ada ujian seperti hijrah kepadaku.” (HR. Muslim, no. 2948).
Keenam, kita mendapatkan kenikmatan setelah mendapatkan musibah, tentu nilainya berbeda dengan kenikmatan lainnya. Seperti orang yang sedang berada ditengah gurun padang pasir yang tandus, lalu dia mendapatkan seteguk air untuk mengobati rasa dahaganya. Dia akan merasakan betapa berharganya seteguk air itu dibanding seteguk air yang dia minum dirumahnya yang mewah dan berlimpah air segar. Kondisi semacam ini menggiring siapa saja untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT. Dalam sebuah syair Arab dikatakan, “kesehatan itu adalah mahkota diatas kepala setiap orang yang sehat, tetapi yang mengetahui adanya mahkota itu hanyalah orang yang sedang kesakitan.”

Jangan Lupa Komentarnya,Syukron
Download Aplikasi NASIHAT ISLAM di Android: android-download-button

Author: