Hadist lemah dan palsu yg populer di bulan ramadhan

 Materi Hadist, Tafsir AlQuran

Amat penting bagi ummat Islam untuk mengetahui derajat

> sebuah hadits sebelum mengamalkan atau menyebarkannya, siapa yg
> meriwayatkan? apakah shahih atau tidak?. Karena hadits lemah, apalagi
> palsu, tidak dapat disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
> wa sallam. Dan mengatakan Rasulullah berkata begini dan begitu padahal
> -ia tahu bahwa hal tsb- tidak pernah keluar dari lisan beliau yg mulia
> ataupun tidak pernah dilakukan oleh beliau, merupakan dosa yg besar,
> sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
>
> مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار
>
> “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya
> dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” [Muttafaqun ‘Alaihi dari
> shahabat Abu Hurairah, Al-Mughirah bin Syu’bah, dan yang lainnya]
>
> Hadits lemah dan palsu seputar Ramadhan amat banyak, berikut saya
> bawakan 10 diantaranya;
>
> Hadits ke-1
>
> صوموا تصحوا
>
> “Berpuasalah, kalian akan sehat.” [HR. Abu Nu’aim]
>
> Hadits Lemah[1].
>
> nb: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa
> puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar,
> namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu’alaihi
> wa sallam.
> Hadits ke-2
>
> نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ
> مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ
>
> “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih,
> do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.”
> [HR. Al Baihaqi dlm Syu’abul Iman (3/1437)]
>
> Hadits Lemah[2].
>
> Hadits ke-3
>
> لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ
> يَكُوْنَ السَّنَة كُلّهَا
>
> “Kalau seandainya hamba-hamba itu tahu apa yang ada pada bulan
> Ramadhan (keutamaannya), maka niscaya umatku ini akan berangan-angan
> bahwa satu tahun itu adalah bulan Ramadhan seluruhnya.” [HR.Ibnu
> Khuzaimah III/190]
>
> Hadits Palsu[3].
>
> Hadits ke-4
>
> مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ
>
> “Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan niscaya
> Allah mengharamkan jasadnya dari neraka” [Disebutkan dlm Kitab
> Durratun Nashihin tanpa sanad]
>
> Hadits Palsu[4].
>
> Hadits ke-5
>
> من فطر صائما على طعام وشراب من حلال صلت عليه الملائكة في ساعات شهر
> رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر
>
> “Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman
> yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan
> dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.” [HR. Ibnu
> Hibban dlm Al Majruhin I/300, Al Baihaqi di Syu’abul Iman III/1441]
>
> Hadits Lemah [5].
>
> nb:  Yang benar, orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan
> mendapatkan pahala puasa orang yg diberi hidangan tadi, berdasarkan
> hadits: “Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada
> orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut
> tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” [HR. At Tirmidzi no.807, ia
> berkata: “Hasan shahih”]
> Hadits ke-6
>
> Hadits ttg doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat dengan lafadz:
>
> اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين
>
> Allahu“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas
> rezeki-Mu aku berbuka, aku memohon Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha
> Penyayang.”
>
> Hadits ini tidak terdapat di kitab hadits manapun. Atau dengan kata
> lain, ini adalah hadits palsu[6] . Sedangkan pada do’a yg tidak
> mengandung lafadz ‘wabika aamantu’  pada do’a di atas, maka sanadnya
> berkisar antara lemah/lemah sekali.
>
> nb: doa berbuka puasa yg benar, terdapat dalam hadits:
> “Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa
> membaca doa:
>
> ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
>
> (Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah)
> ‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala
> didapatkan. Insya Allah” [HR. Abu Daud 2357, Ad Daruquthni II/401]
>
> Hadits ke-7
>
> رجب شهر الله ، وشعبان شهري ، ورمضان شهر أمتي
>
> “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah
> bulan umatku.” [HR. Ad-Dailami, Ibnu Asakir di Mu’jam Asy Syuyukh
> I/186]
>
> Hadits Palsu[7]
>
> Hadits ke-8
>
> يا أيها الناس انه قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك فيه ليلة خير من ألف شهر
> فرض الله صيامه وجعل قيام ليله تطوعا فمن تطوع فيه بخصلة من الخير كان
> كمن أدّى فريضة فما سواه … وهو شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من
> النار
>
> “Wahai sekalian manusia, sungguh hampir datang kepada kalian bulan
> yang agung dan penuh barakah, di dalamnya terdapat satu malam yang
> lebih baik daripada seribu bulan, Allah wajibkan untuk berpuasa pada
> bulan ini, dan Allah jadikan shalat pada malam harinya sebagai amalan
> yang sunnah, barangsiapa yang dengan rela melakukan kebajikan pada
> bulan itu, maka dia seperti menunaikan kewajiban pada selain bulan
> tersebut …, dan dia merupakan bulan yang awalnya adalah kasih sayang,
> pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api
> neraka.” [HR.Ibnu Khuzaimah III/191, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman
> III/305]
>
> Hadits ini adalah hadits Munkar(Lemah)[8].
>
> nb: Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah,
> seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan
> bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya
> sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:“Orang
> yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni
> dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760].
> Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya
> pada pertengahan Ramadhan saja.
> Hadits ke-9
>
> أن شهر رمضان متعلق بين السماء والأرض لا يرفع إلا بزكاة الفطر
>
> “Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang
> dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri.” [Diriwayatkan oleh Al
> Mundziri di At Targhib Wat Tarhib II/157, Ibnu Syahin dlm at-Targhib]
>
> Hadits Lemah[9]
>
> Hadits ke-10
>
> “Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan
> Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat
> begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan
> mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa
> Rasullullah berkata Amin sampai 3 kali. Ketika selesai shalat Jum’at,
> para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan:
> “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik,
> hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.
>
> Do’a Malaikat Jibril adalah: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat
> Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan
> hal-hal yang berikut:
>
> 1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika
> masih ada);
>
> 2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;
>
> 3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”
>
> Hadits ini adalah hadits Palsu, tidak ada asal-usulnya. bahkan teks
> arabnya pun tidak ditemukan[10]. kemungkinan baru keluar tahun
> kemarin.
>
> nb: yang benar, Islam mengajarkan untuk meminta maaf jika berbuat
> kesalahan kepada orang lain. Adapun meminta maaf tanpa sebab dan
> dilakukan kepada semua orang yang ditemui, tidak pernah diajarkan oleh
> Islam.
> Demikian yg dapat saya share ke teman2, semoga kita dapat -senantiasa-
> beragama berdasarkan dalil2 yg shahih, dan terhindar dari penyimpangan
> akibat menggunakan dalil yg lemah maupun palsu. Semoga beranfaat :)

By:Iwan

Jangan Lupa Komentarnya,Syukron
Download Aplikasi NASIHAT ISLAM di Android: android-download-button

Author: